food

Tauwa Minuman Legendaris Asal Surabaya yang Mulai Langka

April 11, 2018

sumber foto : http://www.socimage.net/user/sasmitaedo/5686366/1296319902697069301_5686366

Salah satu minuman Tempo Doeloe yang mulai kalah pamor dengan minuman kekinian yang dikemas apik dan semenarik mungkin untuk anak-anak zaman now yang nongkrong di mall, antrinya  sampai berjubel-jubel dengan harga yang sebenarnya tidak ramah di kantong pelajar, namun tetap saja diterjang demi sebuah gelar “anak hits zaman now”. Meski begitu Tauwa masih tetap hadir dengan kesederhanaan kemasan serta harga, dengan khasiat dan rasa yang mewah serta menggugah.
            Tauwa  kehadirannya sebagian besar ditandai dengan sepeda ontel bergerobak, bapak-bapak tua lalu dengan suara kencang, tegas dan cepat “Wa…Tauwa…Tauwa..Tauwa,” dengan harga tiga ribu sampai empat ribu rupiah sampéyan bisa menikmati pedasnya kuah jahe yang hangat di lambung tapi tidak menyengat di mulut, dipadu dengan lembutnya Tauwa yang terbuat dari sari kedelai. Sangking lembutnya sampéyan sampai tidak perlu repot-repot menggigit atau mengunyahnya karena begitu sampai di mulut Tauwa itu akan kandas bersama dengan kuah jahe.
            Penjual Tauwa yang ada di Surabaya ini sudah jarang ditemui. Beberapa masih ada yang eksis keluar masuk di kampung-kampung tertentu.
            Di wilayah perumahan Gunung Anyar masih bisa ditemui penjual Tauwa keliling, begitu juga ketika saya sedang main di kos-kosan teman di wilayah Kali Kepiting dan wilayah Jetis Margorejo. Harganya pun hampir sama antara tiga sampai empat ribu rupiah per mangkok.
            Berbeda ketika saya sedang mampir di kota Sidoarjo, penjual Tauwa ini tidak keliling keluar masuk kampung melainkan mendirikan sebuah tenda kaki lima. Para penjual ini pasti akan bertanya kepada pembelinya.
 “Pedes atau sedang, Mbak?”
“Kentel apa biasa?”
Maksud dari kentel ini adalah mereka menambahkan bubur yang terbuat dari tepung kanji. Beberapa orang ada yang memesan Tauwa kental. Maka penjualnya akan menambahkan bubur tepung kanji. Tapi saya lebih suka Tauwa original yang tanpa tambahan bubur.
Oh iya untuk kuah jahenya ini para penjualnya memisahkan antara sirup jahe dengan air mendidih. Kalau sepengetahuan saya penjual Tauwa yang ada di Surabaya kuah jahenya sudah menyatu dan tinggal dituang di mangkok. Berbeda dengan di Sidoarjo ini, jika kita memesan pedas, maka mereka akan memberikan sirup jahe lebih banyak agar terasa pedasnya. Dan satu lagi yang unik, disediakan cakwe atau roti goreng yang rasanya asin gurih di meja makan pengunjung.
Saya mengamati orang-orang yang (andhog) menikmati Tauwa di tempat tersebut, mereka sesekali mencelupkan cakwe ke dalam mangkok Tauwa. Saya pun akhirnya penasaran dan ikut mencoba. Cakwe yang digoreng garing dengan rasa asin gurih kemudian dicelupkan dengan kuah jahe yang manis pedas adalah suatu harmonisasi rasa yang sempurna, setelah disusul lagi Tauwa yang terbuat dari sari kedelai berwarna putih susu yang lembut sekali ketika masuk di mulut. Benar-benar nikmat.
Nah, jika sampéyan penasaran dan ingin mencicipi minuman yang legendaris itu cari di waktu pagi dan siang. Kalau sore menjelang maghrib sampai tengah malam penjual Tauwa sudah kukut alias pulang.
Tapi penjual Tauwa di Surabaya ini susah diprediksi kapan lewatnya terlebih di kampung saya, kadang saya membuat Tauwa sendiri di rumah kalau sudah kadung ngidam banget. Mbuatnya juga ndak sulit…
Pertama, siapkan 1 liter sari kedelai dan 1 bungkus agar-agar plain.
Kedua, siapkan jahe merah 200 gram, memarkan. Saya menggunakan jahe merah karena selain khasiatnya bagus untuk kesehatan juga pedasnya lebih terasa dibandingkan dengan jahe yang digunakan untuk memasak.
Ketiga, siapkan 3 batang serai, memarkan.
Hal yang musti kita lakukan terlebih dahulu adalah merebus sari kedelai dengan agar-agar plain, aduk terus sampai mendidih, lalu tuang ke dalam loyang. Diamkan dan sisihkan lalu simpan ke tempat yang lebih aman dari jangkauan semut dan kawan-kawan.
Langkah selanjutnya adalah merebus satu liter air sampai mendidih, kemudian masukkan jahe dan serai yang sudah sampéyan geprek tadi, tambahkan gula. Nah, ngomong-ngomong soal gula dalam pembuatan Tauwa ini ada beberapa versi, ada yang menggunakan gula merah, ada pula yang menggunakan gula pasir. Kalau saya terus terang lebih senang memakai gula pasir karena beberapa produk gula merah itu memberikan efek serik di tenggorokan. Oh iya untuk takaran gula ini sesuaikan dengan selera sampéyan saja, asal jangan overdosis manisnya nanti bisa diabetes…
            Ketika kuah jahe sudah mendidih, matikan. Potong-potong sesuai selera sari kedelai yang telah dingin tersebut ke dalam mangkok lalu siram dengan kuah jahe, tambahkan kacang goreng  bawang. Tauwa siap dinikmati…

Uthastory

Catatan Harian Dudung Episod : Ketagihan Game Online

April 02, 2018



Hari ini seperti biasa, ya setidaknya lebih baik dari pagi kemarin. Aku bisa bangun lebih awal tanpa omelan Ibuk. Biasanya kalau jurus omelan Ibuk tidak mempan, air setengah gayung itu bisa membuyarkan mimpiku. Tapi sejak hpku di sita aku bisa tidur lebih awal.
            “Buk, hukumannya hari ini kan berakhir. Jadi aku boleh main hp lagi ya sepulang sekolah” bujukku, sambil menyendok nasi hangat yang dicampur mentega dan omelet. Menu sarapan favoritku dan Ibuk tak pernah absen membuatkannya.
            “Hmm, boleh tapi dengan satu syarat ya, Dung” Ucap Ibuk sambil menuangkan nasi ke dalam piring untuk Ayah.
            Sesaat kemudian Ayah turun dari tangga, sambil membenarkan dasi, menarik kursi dan duduk.
            “Pagi Dudung, tumben makannya enggak semangat, kenapa?” Sapa Ayah
            “Itu Yah, hari ini hukumannya Dudung berakhir, dia ingin hpnya dikembalikan. Tapi Ibuk mengajukan satu syarat. Boleh main gamenya hari minggu aja, selebihnya Dudung belajar, les dan bantu Ibuk di rumah. Bagaimana Dung?” Tawar Ibuk
            “Iya Dung, ini semua demi kebaikan kamu. Baru 1 bulan kamu pegang hp tapi nilai ulanganmu anjlok kan?”
            “Tapiiiii Ibuk, Ayah… aku janji deh bakal rajin belajar meskipun pegang HP. Perjanjian hukumannya kan Cuma tiga hari. Lagipula nilai ulangan Dudung sudah bagus lagi kemarin buktinya matematika dapat 80.”
            Meksipun Dudung berusaha membela dan kekeh ingin mengambil hpnya kembali. Ayah dan Ibuk telah memberi keputusan. Ia diijinkan main hp hanya di hari minggu saja.
            Dudung dihukum, hpnya di sita oleh Ayah dan Ibuk karena berkali-kali Ibuk memergoki Dudung keranjingan main game  terus-terusan sampai lupa belajar, tidak mengerjakan PR, susah bangun pagi karena tidurnya sampai larut malam dan sering mengabaikan panggilan Ayah, Ibuknya, yang tengah asyik bermain dengan HP barunya. Rupanya Dudung ketagihan main game online bersama teman-temannya.
            Semula Ayah dan Ibuk Dudung berniat membelikan hp karena jadwal sekolahnya semakin padat. Jadwal pulangnya pun tak tentu. Kadang pulang sore atau bisa jadi lebih awal dari biasanya. Akhirnya Ayah membelikan HP pintar sebagai hadiah karena nilai raport Dudung bagus. Tapi sayang baru dua bulan Dudung memakainya sudah disita
            Sepanjang perjalanan di dalam Mobil Dudung mrengut, sambil memandangi jalan. Ia sangat kesal dengan keputusan Ayah dan Ibuk. Ia ke sekolah hanya membawa hp biasa yang hanya bisa untuk telfon dan pesan singkat.
            Aah, bagaimana ini, kalau teman-temanku tahu pasti mereka semua menertawakanku. Aku membawa hp butut. Tak bisa main game online. Aku sudah ketinggalan jauh nih. Batin Dudung.
            “Dung” Ayah memanggil
            “Iya Yah”
            “Kamu tahu enggak, ada salah satu penelitian yang mengatakan bahwa sering-sering main hp bisa membuat otak jadi ideot.”
            “Oiya? Kata siapa Yah?”
            “Kata Ayah nih sekarang”
            “Tapi Yah, jaman sekarang itu kalau enggak punya hp dibilang kuno. Kayak sekarang nih. Dudung pasti udah diejekin sama temen-temen gara-gara hpnya jelek. Dudung jadi cupu kan.. mereka semua pada ngomongin Mobile Legend, Dudung? Masak iya belajaar teruuus”
            “Tapi coba lihat temen-temen kamu yang ketagihan main game, pasti nilai ulangannya jelek kan? Kayak ulangan matematika kamu seminggu yang lalu tuh. Masak iya dapat nol, Dung.”
            “Enggak juga tuh, mereka nilainya tetep bagus-bagus soalnya mereka nyontek Cebong. Temen kelas paling pinter yang terkenal cupu. Kemarin Dudung harusnya nyontek ya biar nilainya tetep bagus dan bisa main hp lagi. Huft”
            “Eh…eh kok gitu… hayo inget enggak nasihat Pak Ustad?”
            “Nasihat yang mana, Yah? Pak Ustad kebanyakan nasihat jadi Dudung susah ingetnya”
            “Yaudah kalau gitu apa aja yang bisa kamu inget dari nasihatnya Pak Ustad?”
            “Berbakti kepada orangtua. Hmm Dudung kan udah berbakti sama Ayah dan Ibuk”
            “Mana? beberapa hari yang lalu kamu mengabaikan panggilan Ibuk, disuruh beli gula di Bu Siti kamu enggak mau malah asyik main game, hayoo inget enggak?”
            “Hehehe” Sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
            “Pak Ustad pasti sering bilang kalau mencontek itu perbuatan yang tidak baik, hayo diinget. Pernah enggak ngomong gitu?”
            “Hmm kayaknya pernah deh, Yah... yaudah kalau gitu mulai sekarang aku akan belajar yang rajin biar pintar seperti Cebong, meskipun enggak main game online lagi.. tapi nanti aku belikan buku cerita ya, Yah” Pinta Dudung.
            Hari itu Dudung menerima perjanjian Ibuk, bermain game onlinenya hanya hari minggu saja. selebihnya Dudung belajar, les, sesekali membantu Ibuk di dapur dan kalau senggang Dudung membaca buku.
****

parenting

Aku Adalah Anak Broken Home yang Bahagia

April 01, 2018


Membahas masa lalu memang tak akan pernah tuntas, jejaknya selalu membekas. Entah itu menyenangkan maupun menyedihkan. Meninggalnya Ibu merupakan luka batin yang sangat menyakitkan. Seperti kiamat kecil bagi hidupku. Dalam bayanganku, aku tidak akan sanggup menjalani hari-hari tanpa Ibu… jangan tanya bapakku dimana. aku dibesarkan hanya seorang ibu. Dulu, aku mengutuk sosok bapak itu adalah laki-laki paling bajingan sedunia. Namun proses kehidupan perlahan membukakan pikiranku bahwa sebajingannya bapak, ia adalah makhluk ciptaan Tuhan. Semua tak lepas dari takdir. Aku percaya dan hmm harus percaya bahwa takdir yang pahit menurut kita ternyata terbaik menurut Tuhan. Aku hanya sebagai pelakon hidup yang gigih belajar ikhlas dan pasrah.
Di masa lalu sejak ibu meninggal, logikaku berkata bahwa aku tidak akan pernah sanggup hidup tanpa Ibu. Bagaimana bisa, kedua kakakku menjadi perantauan di kota sebrang, mereka sudah saling berkeluarga.  Adapun bude. Tentu saja rasa kasih sayangnya berbeda dengan kasih sayang ibu. Di masa-masa kepergian Ibu aku sempat mengalami pembullyan yang dibungkus rasa iba. Bullying yang alus banget….
“Ya Allah kasian ya kamu itu yatim piatu”
“Ih terus gimana dong kalau curhat kalau enggak punya orangtua, kasian ya kamu itu”
 Siapapun yang telah berbicara seperti itu kepadaku maka dalam pandanganku sudah ku beri nilai double minus.
Sejak saat itu aku selalu suka diam dan menyendiri meskipun kepribadianku yang sesungguhnya jauh dari sifat itu. aku lebih suka menyembunyikan identitasku. Bahkan rela berbohong demi menjaga hati dari kebaperan.
Ada sampai sekarang seorang yang baiknya bener-bener tulus bahkan sampai kapanpun aku enggak akan pernah melupakannya. Adalah bu dwi, dosen pembimbingku. Beliau mampu mengemas simpatik dengan kalimat yang tidak menyinggung bahkan mengharukan sampai-sampai aku tak segan menangis di peluknya..
“Doa yang baik-baik dari Ibu ini anggaplah doa dari orangtuamu ya, kamu hebat.. kamu kuat. Sejak awal saya sudah jatuh cinta sama kamu, kamu itu cerdas cuman sayang bandel” haha kalimat yang terakhir emang agak enggak enak, tapi itu tidak menjadi masalah. Setidaknya tutur katanya menjadi obat rinduku kepada Ibu. bukan hanya Bu Dwi, ada beberapa ibu lain yang sudah ku anggap ibuku sendiri, dan ia pun menganggap aku seperti anaknya, baik itu dari ibunya sahabatku sampai ibu yang baru aku kenal di masjid. Bagiku ini anugrah.
Merasa kesepian itu wajar bagi siapapun yang mengalami hal yang sama sepertiku, tidak memiliki orangtua. Kadang suka galau-galau sendiri, nangis-nangis sendiri kalau lihat orangtua lagi jalan sama anak-anaknya. Atau lihat temen sendiri lagi mesra banget sama ibunya…. Nyeseknya itu sampai ke tungkak lambung.
  Dulu, setiap malam sebelum ia meninggal sering bilang
            “Mami itu sayang bangeeeet sama kamu, kamu itu bidadari kecilnya mami. Jangan tinggalin mami yaa” iyaa, sih ibuku memang punya bakat so sweet dari lahir. Keromantisannya itu yang akhirnya bikin rumah rasanya adem, guyub. Ia juga suka menulis diary. Jaman belum ada HP ia suka berkirim surat untuk kedua kakakku yang lagi kuliah di kota sebrang, Jakarta dan Surabaya.
            Biasanya ketika ia mengucapkan itu aku diam sambil geli-geli gimana gitu mendengarnya, namun kali itu aku menjawab dan ternyata kalimat itu menjadi percakapan kami yang terakhir.
            “Mami yang suka ninggalin aku, kalau kakak-kakak pulang mami jadi lupa sama aku…”
            “Enggak-enggak…. Mami enggak gitu lagi wis”
            Ibu meninggal ketika usiaku 17 tahun. dan sekarang usiaku menginjak 25 tahun. sudah delapan tahun lebih ia meninggalkanku dan nyatanya aku mampu bertahan selama itu meski kadang harus merangkak, kadang harus berhenti sejenak ambil nafas. Kepergian ibu meninggalkan banyak hikmah bagi diriku yang super bandel dan manja ini.
            Aku jadi tahu rasanya berjuang tanpa pelukan Ibu. Memaksakan diri menjadi kuat, membiasakan diri untuk tidak mengeluh dengan keadaan. Kepergian Ibu mengubah kepribadianku menjadi lebih mandiri. Dan satu hal yang harus ku syukuri. Tuhan telah mengirimkan obat berupa bakat menulis. Ketika sedih sedang dominan mewarnai hidupku, aku melampiaskannya dengan menulis.  Ketika aku sedang merasa sebel dengan seseorang, ingin marah dan senang pun ku lampiaskan dengan menulis. Aku seperti menemukan teman sejati. Aku merasa tidak sendiri ketika menulis. Sampai akhirnya membawaku pada komunitas yang berkecimpung dengan dunia literasi. Yaa, mereka membuatku yakin bahwa aku tidak punya alasan lagi untuk merasa menderita, merasa sendiri. “Aku adalah makhluk Tuhan yang paling beruntung, aku harus selalu bersyukur!”
            Manusia memang tak bisa lepas dari berandai-andai. Ketika mendapatkan pencapaian-pencapaian yang selama ini aku inginkan, rasanya ingin berbagi kebahagiaan kepada Ibu, ingin berteriak riang memanggil namanya sambil memeluknya, menciumnya
            “Ibu…. Aku berhasiiiiil” lhoh kok jadi kayak Dora sih,
            Ketika salah satu karyaku dimuat di media atau dibukukan rasanya ingin berteriak riang
            “Ibu…. Aku jadi penulis… baca niih baca ini tulisanku lhooh”
            Tapi aku harus sadar bahwa saat ini ibu tidak membutuhkan itu semua, teriakan riang itu. ibu butuh doa dan kebaikan anaknya. Aku selalu berharap bahwa tulisanku ataupun apa yang aku lakukan dapat membawa nilai-nilai kebaikan yang mampu melapangkan kuburnya, diampuni segala dosa-dosanya.
            Dan kelak aku berharap Rahmat Allah mampu mempertemukanku dengan Ibu di surga.
            Rindu ini pekat, Bu… aku punya segudang cerita untukmu. Tuhan, titip salam rindu untuk Ibu. Aku mohon sampaikan rindu ini, sampaikan cinta ini dari anaknya yang paling bandel.
            Bicara tentang broken home, semua anak tidak ada yang mau mengalami itu. perpecahan keluarga adalah hal yang paling menyakitkan dalam sejarah hidup. Tapi ada satu hal yang harus kamu yakini bahwa Allah itu maha baik, ia tidak akan membiarkan hambanya menderita begitu saja, ujian yang diberikan kepada kita pun bukan malpraktik, sudah dipikirkan mateng-mateng sesuai dengan kemampuan kita. sederhananya begini, jika kamu merasa mendapatkan ujian yang tidak seperti kebanyakan orang berarti kamu spesial bagi Tuhan… ketika kamu merasa enggak ada yang bisa jadi temen curhat, itu tandanya Allah sedang memanggilmu secara halus untuk mendekat kepadaNya. Pookonya kalau sama Allah harus berbaik sangka apapun yang menimpa kita.
            Kalau aku lagi suntuk-suntuknya sering nyletuk gini sih
            Udahlah biarpun ibu pergi, semua pada menjauh, asalkan aku mohon ya Allah jangan kau jauhkan aku dariMu… aku mohon jangan tinggalin aku Ya Allah, apa jadinya aku tanpa rahmat dan lindunganMu. Beri aku kasih sayangMu, beri aku perhatianMu dan jadikanlah aku hambaMu yang Kau cintai.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           

food

Kultweet Mengolah Makanan Sehat dan Bergizi Menjadi Sumber Inspirasi

Maret 18, 2018


1.     

a   1. assalamualaikum, selamat malam teman-teman semua. bagaimana kabar malam minggu  kalian. smoga senantiasa menyenangkan dan bermanfaat ya.. baik, kita mulai dengan perkenalan dulu yaa2.  agusthaningrum sering dipanggil utha, kalau ada promo diskon pake nama agus. saya alumni tata boga unesa. pernah menjuarai lomba masak untuk anak autis. resep-resep kreasi saya pernah dimuat di tabloid masakan nasional di tahun 2013-2014 #masakjadiasik
3. Bagi saya masak tidak hanya berbagi makanan, tapi juga gagasan. Gagasan tentang apa yang kita masak. Juga gagasan tentang keindahan seputar kegiatan masak dan makan dari situlah sumber inspirasi akan terus mengalir tanpa kita sadari #masakjadiasik
4.   Dari kegiatan memasak kita bisa sambil belajar sejarah sekaligus menumbuhkan cinta kita pada tanah air. Indonesia ini negara yg sangat kaya, hal itu membuat bangsa asing berbondong-bondong ingin menguasai negeri ini. #masakjadiasik
5.  bukan pada emas atau berlian yang menjadi incaran tetapi rempah-rempahnya atau dalam bahasa jawa namanya empon-empon. Bagi kita mungin akan berdecak heran. Apa sih istimewanya rempah-rempah? helloooow..
6.   Jangan salah bagi mereka, rempah2 ini ternilai harganya melebihi emas atau berlian. Karena rempah-rempah ini banyak sekali khasiatnya bagi tubuh, selain itu ia juga mampu melezatkan masakan lho.
7.   jauh sebelum dunia micin rame di dunia meme dan mewarnai rasa pada kuliner indonesia. para nenek moyang tlah menemukan penyedap masakan di dalam salah satu bumbu jangkep atau rempah-rempah. micin alami tanpa efek samping. apa saja itu?
8.  kemiri memiliki kandungan asam glutamat yg memberikan rasa gurih serta nikmat ketika digunakan sebagai salah satu penambah bumbu masakan. saya biasanya membuat bubuk kemiri sendiri sebagai pengganti micin.
9.   bawang-bawangan itu juga membantu menyedapkan masakan selain karena aromanya yg baru disangrai sebentar saja sdh menggoda indra penciuman tetangga. kuncinya masak enak tanpa micin itu harus berani bumbu. semboyannya "berani bumbu itu baik!" tp juga harus proporsional
10.   sya sllu menekankan pda diri saya bahwa penulis itu harus hidup sehat. buat suatu masakan yang bisa jadi mood booster tapi menyehatkan. kan enggk lucu banget klo misalkan kita makan mie instant super pedes alih2 utk mood booster eh begitu buka laptop perutnya menjerit panas.
11.   11.sya sllu stok bumbu mie sendiri. bahan dasarnya kemiri dan bawang putih dihaluskan. disimpan dalam kulkas bisa utk stok sebulan. pakai mie kriting, diolah sendiri tambahkan saus tiram, lada bubuk. kalau mau pedes tambahkan cabe. bisa utk mie goreng atau mie kuah.
12.   kalo mau bkin mie kuah kasih kaldu ayam atau ceker. klo mau disederhanakan lagi kaldunya pentol itu juga bisa. tapi klo sya suka pake kaldu dri telor bebek. rasanya akan lebih menghipnotis lidah. menghangatkan jiwa raga. mood booster yg sehat dan aman.
13.  nah ini penulis biasanya cenderung berkawann dg kopi. saya kopi addict tapi maaf bukan kopi instant ya... kopi yang diracik dengan baik dan benar tidak akan membahayakan bagi tubuh justeru berkhasiat.
14.  coba perhatikan komposisi kopi instant, kopinya hanya sepersekian persen selebihnya perisa dkk. harganya murah, dua ribu persachetnya. Nah ini yg bkin asam lambung naik. lalu kopi yg sehat seperti apa?
15.  kopi racikan sendiri bahkan kalau perlu beli biji kopi lalu digiling sendiri..kalau mau kopi yg creamy ya tinggal beli creamer saja..Harganya memang jauh lebih mahal dibandingkan kopi instant, tapi sehat itu mahal. bisa lah nabung seribu perhari dlm sebulan bisa dpt kopi sehat
16.  hidup sehat itu keharusan dimulai dri memilih pola makan namun jgn sampe kebablasan, jgn nyinyirin makanan yg jelas2 halal dan diperbolehkan. misal, jgn makan cumi itu kolesterol. atau jgn makan ini nnti gendut. yg bkin gendut dan kolesterol itu jika mengkonsumsinya berlebihan
17.   jangan fokus jadi kurus tapi fokusnya hidup sehat. makanan sehat bisa jadi sumber inspirasi sekaligus energi kita dalam menulis...
18. salah satu karunia Allah di dunia ini adalah ketika km bisa makan semangkok soto dan es jeruk tanpa perlu repot menanam padi, ternak ayam, menanam jeruk sampai panen dll. bayangkan jika itu trjadi. ribet ya? maka bersyukur sebanyak-banyaknya adlh kunci utama hidup sehat.
19. terakhir. Inspirasi datangnya dari Tuhan, memilih makanan sehat yg bisa jadi mood booster adalah ikhtiarnya.. maka mintalah sllu diberikan inspirasi yg didalamnya mengandung nilai2 kebaikan sehingga karya kita akan bermanfaat dunia akhirat.
20.   saya pamit dulu ya... sampai ketemu di lain kesempatan. jika ada yg mau ditanyakan silakan DM aja di @agusthaningrum atau by email agusthawriting@gmail.com. assalamualaikum... smoga keberkahan senantiasa mengiringi langkah kita. semangat nulis ya!



food

Kopi Tubruk

Maret 16, 2018


Ayo ngopi shég cék gak salah paham” tagline ini seperti sudah tidak asing lagi kita dengar baik di dunia angkringan kopi kelas bawah maupun kelas atas yang populer disebut coffeshop maupun dunia netizen. Kopi di sini seakan menjadi solusi bagi setiap masalah apapun.
Faktanya, kopi hitam tidak hanya dapat melawan diabetes dan beberapa tipe kanker, tetapi juga dapat meningkatkan memori dan mengurangi stres. Karena kopi mengandung zat anti-depresi, jadinya orang yang suka minum kopi biasanya lebih mudah mengatasi rasa depresinya, ada sensasi relaks ketika disruput, maka dari itu tidak heran jika tagline “Ayo ngopi shég cék gak salah paham” itu menjadi acuan bagi siapapun yang sedang tertimpa masalah atau konflik baik dengan dirinya sendiri atau dengan saudara, sahabat maupun kerabat kerja.
            Menurut sebuah studi dalam World Journal of Biological Psychiatry itu juga telah menemukan bahwa reputasi negatif tentang kopi sudah tidak berlaku lagi. Asalkan, kopi yang dinikmati adalah kopi hitam, bukan kopi instant dengan kandungan susu atau krim, yang sejatinya kadar kopinya hanya beberapa persen saja, selebihnya perisa dan pemanis.
            Bicara tentang kopi, rasa-rasanya banyak yang bertanya sebenarnya apa sih dibalik nama kopi tubruk ini? mengapa harus menyisipkan kosakata tubruk?
            Menurut kamus besar Bahasa Indonesia kopi tubruk berarti minuman kopi yang dicampur dengan gula jadi satu di dalam gelas lalu diseduh dengan air panas, namun menurut versi lain dari foodies (pecinta wisata kuliner) dan coffe addict mereka hampir sepakat bahwa kopi tubruk adalah bubuk kopi hitam yang direbus bersamaan dengan gula. Adapun pecinta kopi garis keras seperti saya ini yang tidak mau mencampur kopi dengan unsur tambahan apapun termasuk gula, maka saya merebus bubuk kopi dengan air mineral saja. Tapi saya akan mencampurnya dengan merek gula tertentu kalau sedang membuatkan kopi untuk Bapak dan Ibu di rumah dan saya selalu memakai gula merek Gulapas produk resmi dari PT PN XI, mengapa?
            Karena saya tidak pernah bercanda soal kopi. Dari mulai meracik sampai akhirnya bisa tersruput dengan rasa dan tekstur yang benar-benar pas dan sempurna.
            Seperti halnya manusia, kopi juga memiliki karakter khas masing-masing pada setiap jenisnya. Dan kopi favorit saya adalah kopi robusta asli dari perkebunan gunung merapi yang jaraknya hanya 7 kilometer dari puncak gunung merapi. Agar karakter khas kopi robusta ini keluar maka dua hal utama yang perlu diperhatikan adalah kualitas air yang bagus, jernih dan tidak berbau. Kedua, yaitu kualitas gula.
            Gula yang dipakai haruslah higienis dan bersih. Cirikhasnya ia tidak akan meninggalkan bekas serik di tenggorokan, serta tidak menganggu karakter aroma kopi ketika disruput. Maka saya dan keluarga besar saya telah memutuskan untuk memakai Gulapas dalam pembuatan kopi tubruk.
            Cara membuat kopi tubruk ini ada empat langkah saja, sederhana namun harus jeli dan hati-hati dalam proses pembuatannya ;
Pertama, panaskah air mineral sampai mendidih di panci kecil.

Kedua, sambil menunggu air mendidih, siapkan kopi yang akan kita seduh. Biasanya sekitar 13-14 gram untuk 200 ml air. Jika sampéyan kesulitan dalam menimbang alias ribet. Bisa dibikin gampang kok, kira-kira dua sendok teh untuk satu cangkir air. Jangan lupa, tambahkan gula merek Gulapas dengan takaran sesuai selera. Kalau ndak suka manis ya kasik saja satu sendok teh, kalau suka manis, kasik saja dua setengah sendok teh. Jangan banyak-banyak nanti rasanya akan berbeda.

Ketiga, nah, ketika air sudah mendidih, kecilkan api lalu masukkan kopi dan gula jadi satu dalam panci yang berisi air mendidih tadi.
Keempat, aduk terus sampai rebusan kopi ini mendidih. Karena jika dibiarkan begitu saja nanti bisa meluber dan tumpah.
Kelima, tuang rebusan kopi ke dalam cangkir.
            Kopi tubruk sudah siap disruput, apalagi kalau ditemenin pisang goreng tambah maknyus.
            Dalam pembuatan kopi tubruk ini pun ada berbagai macam versi. Salah satunya ada yang langsung mencampurkan air mineral tanpa direbus dulu, langsung dicampur dengan kopi dan gula lalu baru direbus bersamaan.
            Namun berdasarkan pengalaman pribadi, saya lebih suka merebus air mineralnya terlebih dahulu baru setelah itu direbus lagi dengan kopi dan gula. Sekali lagi ini masalah selera, tapi yang jelas seorang pecinta kopi sejati akan meracik sebaik mungkin kopinya agar terasa pas dan sempurna dalam setiap cecapannya.

           



Ketika Aku Sedang Sibuk Mencari Tuhan Part 1

Maret 09, 2018



Aku lahir dari keluarga yang sangat berantakan, serba semrawut. Banyak kejadian buruk yang terekam kuat dalam memoriku sejak kecil. Dari mulai pembullyan dari pihak keluarga maupun di luar baik itu tetangga sekitar dan teman-teman sekolah. Dan itu sempat membuat jiwaku tergoncang, mungkin lebih dari kata depresi namun tidak seekstrim vonis gangguan jiwa.
Di usiaku yang beranjak dua puluh tahun, obat tidur sudah menjadi teman baikku, aku pun sempat mengkonsumsi obat penenang atau antipsikotik. Titik balik kehidupanku adalah dimana aku harus diasingkan dari keramaian, hari-hariku monoton, tidur, baca buku, menulis catatan harian dan minum obat. Waktu itu aku merasa bahwa aku tidak gila. Tapi dokter pernah mengatakan bahwa aku sempat delusi, sulit membedakan alam nyata dengan imajinasi. Aku tertawa dalam hati, karena sejak kecil memang aku suka berimajinasi. Masak iya ini gangguan jiwa? Tapi bagaimanapun juga dokter enggak bisa dilawan…kecuali lawannya sama Tuhan.
Sejak saat itu aku belajar memaksakan diri untuk pasrah dengan keadaan. Namun bagaimanapun juga jenuh selalu hinggap karena rutinitas yang itu-itu saja. maka aku alihkan kejenuhan itu dengan menulis cerpen. Itu adalah kali pertama aku menulis cerpen, biasanya hanya coretan-coretan galau di buku harian. Aku membuang semua imajinasiku ke dalam cerita pendek, waktu itu aku nulisnya masih pakai tulisan tangan, belum punya laptop. Namun semua itu tidak menjadi masalah selagi bosanku terobati.
            Nah, dari sinilah aku mulai jatuh cinta dengan dunia sastra meski saat itu aku sudah menginjak semester dua jurusan tata boga.  Aku rasanya tidak peduli akan hal itu, hampir semua buku-buku sastra ku lahap. Seperti Dunia Sofie, buku-buku Pramodya Ananta Tur, Budi Darma, Dee, Ayu Utami. Tak puas dengan semua itu, aku menggali biografi penulis-penulis favoritku. Salah satunya adalah Buya Hamka. Ada semangat yang mulai menyala kembali ketika aku tahu bahwa Buya Hamka juga Pramodya Ananta Tur terlahir dari background keluarga yang berantakan, pernah mengalami pembullyan dan banyak penderitaan yang telah dilaluinya. Aku tertegun, merasa tidak sendiri, aku merasa ada energi positif yang tertular padaku ketika membaca jejak hidupnya.
            Sejak saat itu aku berjanji kepada diriku sendiri apapun yang terjadi padaku, sepahit apapun aku harus bertahan, aku harus melawannya.
            Di usiaku dimana masa-masa emas anak muda sedang berjuang mengejar cita-cita. Sebaliknya, aku masih sibuk berkutat dengan diriku sendiri, perang batin, berjuang berdamai dengan diri sendiri. Ketika aku sudah lelah dan merasa tak mampu melawannya obat tidur selalu menjadi solusi.
            Aktivitas yang ku tekuni sebagai anak tata boga juga penulis hanyalah pelarian semata. Menerima kontrak kerja event demo masak salah satu majalah nasional, juga menerima kontrak event kelas menulis salah satu perusahaan alat tulis. Semua itu ku jalani beriiringan. Aku tidak merasa lelah menjalankan semua berbarengan karena itu jauh lebih baik daripada dihantui bayang-bayang luka masa lalu. Jika diibaratkan film, potongan-potongan adegan dalam hidupku yang sangat menyakitkan itu sering muncul, rasanya lebih dari kata perih. Jika semua itu muncul perasaanku menjadi serba kacau. Maka menyibukkan diri sesibuk-sibuknya adalah solusi untukku saat itu.
            Aku tidak akan membiarkan pikiranku kosong. Jika waktu luang ku habiskan untuk membaca buku, menulis naskah atau membuat ide-ide resep masakan baru. Dan selama ini orang hanya melihatku dari sisi luarnya saja. apa yang ku lakukan menjadi sosok yang menakjubkan. Padahal mereka tidak tahu apa yang ku lakukan semua itu hanya pelarian belaka. Jiwaku masih terombang-ambing dengan kesedihan masa lalu. Hidupku sangat hambar.
            Namun ada hal yang sangat aku syukuri hingga saat ini adalah ketika aku ingin mencari pelarian menjadi “nakal” selalu gagal. Ketika resah datang, pikiran semrawut enggak karuan aku ingin sekali mencicipi rokok dan alkohol yang katanya akan membuat tubuh kita melayang dan lupa akan segalanya.  Saat itu niatku sudah tekad, aku pergi ke indomart dekat kos niat beli rokok dan alkohol lillahi ta’ala. Tapi begitu sampai sana ujung-ujungnya aku membeli roti sobek dan kopi sachet. Niat semacam itu sudah sering ku lakukan lebih dari sepuluh kali dan failed. Entah  mengapa ketika aku hendak melakukannya ada sesuatu yang menarikku lalu berbisik halus “jangan”, seketika penggalan-penggalan biografi Buya Hamka dan Pram yang menceritakan perjuangan melawan luka hidupnya dengan kegiatan positif itu muncul dengan begitu jelas. Akhirnya aku menyeduh kopi lalu menulis atau membaca buku. Dalam kondisi seperti itu aku mampu melahap bacaan 600 halaman dalam hitungan jam, menulis satu cerpen atau artikel dalam satu jam, atau membuat puisi hanya dalam hitungan menit.
            Mencari Guru Spiritual
            Selain coffe shop dan perpustakaan, tempat pelarianku adalah masjid. Meski tidak selalu melakukan ibadah, hanya duduk termenung begitu saja sudah cukup membuatku lebih baik. Ada beberapa masjid favoritku yang sangat nyaman sekali untuk menjadi tempat berdiam diri. Melihat orang sholat, mengaji kadang membuatku iri. Betapa bahagianya mereka yang berhasil menemukan Tuhan, betapa senangnya mereka bisa dekat dengan Tuhan.
            Aku pernah mengikuti suatu kelompok ngaji, pernah berkali-kali mengikuti majelis ta’lim dari kelompok yang berbeda demi mencari ketenangan tapi hatiku malah semakin resah tak karuan.
            Ada banyak kejanggalan yang ku alami. Sampai berganti-ganti guru namun tetap saja hambar malah kecewa yang ku dapatkan. Pernah suatu kali sambil menunggu teman yang lain datang, aku membaca novel. kemudian guruku menegur
“Ih… kamu kok bacaannya gitu sih? itu tuuh yang bikin imanmu lemah. Saya aja enggak pernah baca novel yang aneh-aneh, kecuali novel yang benar-benar islami.”
Ia menegurku di depan teman-teman. Sejak itu ketika aku mengeluarkan pendapat atau pertanyaan yang sifatnya ekstrim atau mungkin kelewat kritis, mereka dengan mudah menjudge “Si ukhti ini bacaannya aneh-aneh sih makanya pikirannya jadi terkontaminasi.”
“Wah bisa bisa kena paham liberal” “ketika imannya lemah dia akan mudah meninggalkan jamaah ini, naaudzubillah”
Sesungguhnya aku mendengar semua desus itu namun selama ini aku hanya berpura-pura tidak tahu apa-apa. Apakah salah jika aku sedang berupaya mencari Tuhanku sendiri, semua bacaan ku lahap, semua yang ku anggap janggal tentang ilmu agama ku tanyakan. Aku sedang mencari Tuhan, aku ingin mengenalnya dengan caraku… aku ingin menyembuhkan lukaku ini dengan mendekat dengan Tuhan. Apa itu salah?
Resahku semakin membuncah, aku sangat membutuhkan guru yang sebenar-benar guru. Bukan yang mudah menjudge, bukan yang hanya ahli ceramah namun sikapnya tak bisa menjadi cerminan. Aku tak bisa menemukan “klik” sampai aku bisa mengatakan naah ini nih guru yang selama ini ku cari. Titik puncaknya ketika aku mengalami suatu kekecewaan yang sangat berat, aku meninggalkan jamaah itu dengan penuh drama, namun tekadku kuat. Aku sudah jengah dengan semuanya. Aku harus keluar.
Aku selalu berdoa… Tuhan dimanakah Kau berada, betapa aku sangat ingin dekat denganmu, aku rindu padaMu… aku mencariMu di kelompok ngaji hingga berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain, berganti-ganti guru pun aku tak berhasil menemukanMu… hatiku masih saja resah, lukaku masih saja menganga, semakin menjalar. Kacau berantakan… Dimana Kau Tuhan? Izinkan aku untuk mengenalMu, sembuhkanlah aku dari semua keresahan ini… aku sangat tersiksa…
Doa itu tak pernah berhenti ku ucapkan seiring dengan desus-desus buruk tentangku ketika aku keluar dari jamaah itu. Di cap liberal, futur (lemahnya iman. istilah ini yang sering digunakan para aktivis dakwah) bahkan sampai aku kehilangan seorang sahabat…
Sempat aku berpikir, betapa sadisnya beragama di dunia ini, Tuhan jika beragama lantas membuatku semakin menderita, semakin menumbuhkan kedengkian maka biarkan aku tak beragama. Bahkan sahabat yang ku yakini dapat membantu meredam gejolak jiwaku itu pun pergi hanya karena aku sudah tidak lagi sealiran dengannya... katanya aku ini sudah sesat, keluar dari jalan kebenaran…
Tuhan… jika itu kebenaran mengapa hatiku tak menemukan ketentraman? Apakah yang salah dariku? 
Bersambung,

Uthastory

Ketika Aku Sedang Sibuk Mencari Tuhan

Maret 08, 2018



Aku sedang sibuk mencari Tuhan…
Dimana Dia?
Aku mencariNya di pagi hari. Nihil. Hanya resah yang ku temui.
aku mencariNya di siang hari. Nihil. Hanya gundah yang ku dapati
aku mencariNya di malam hari. Nihil. Jiwaku semakin terguncang.
Menggigil merasuk sukma…
Tak putus asa aku mencariNya lagi
Aku mencariNya di Psikiater. Nihil. Hanya obat penenang yang ku dapati. Jiwaku tetap saja hambar. Resah masih saja menggelayut manja.
Aku mencariNya di masjid pada sekumpulan manusia yang mengaku alim. Tapi mengapa hatiku tetap saja resah. Luka batinku bertambah menganga, basah.
Aku tidak menemukan Tuhan, Aku menemukan diriku sendiri…
Ternyata selama ini Tuhan ada dalam hatiku…
Aku lah yang enggan mengenalNya…
Resahku sedikit mulai larung….
Dendamku sedikit terbawa oleh angin lembut dini hari
Dan…
Ketika semua keresahan datang lagi hinggap dalam tubuhku
Aku hanya butuh berduaan dengan Tuhan.
Bukan psikolog, psikiater atau obat penenang…