Kisah Ibu Mantan Direktur Bank Yang Resign

Juli 17, 2017



              
  Pagi tadi aku memutuskan menclok ke perpus demi menuntaskan deadline yang sudah hampir paripurna. Karena perpus ini tergolong favorit dari semua kalangan. Baik yang berkepentingan baca buku ataupun Cuma duduk-duduk ngadem. Perpustakaan ini didesain senyaman mungkin. Bukunya lengkap, tersedia beberapa komputer dan wifi yang kadang lancar, sering ngadatnya, ada children playland. Wis wuenak pokoke. 
            Aku menaruh beberapa amunisi seperti buku-buku, laptop beserta kabel chargernya di meja favorit yang dekat dengan colokan. Datang paling awal, perpusnya masih sepi banget. Tiba-tiba ada seorang buibu berjilbab separoh baya main tab, ia menoleh ke arahku dan melemparkan senyuman. Aku pun membalasnya sembari menaruh beberapa buku referensi di meja. Ibu itu menyapa hangat.
            “Suka baca novel, Mbak?”
            “Apa aja sih bu saya baca”
            “Mbaknya penulis?”
            “Cita-cita Bu” aku terkekeh
            “Masih kuliah semester berapa?”
            Dalam hati seneng banget untuk kesekian kalinya masih dibilang mahasiswa..
            “Ooh saya sudah lulus Bu”
            Sembari menyalakan laptop dan beberapa buku, rupanya buibu ini ingin melanjutkan obrolannya dan aku pun tergoda menanggapinya.
            Sebut saja namanya bu Dewi, ia sering mampir ke perpus sehabis mengantarkan anaknya ke kampus. Anaknya cuman 2, keduanya kuliah di kedokteran terkemuka di Surabaya. Ia menceritakan pengalaman hidupnya sejak dari masa-masa jadi mahasiswa, ia bercerita tentang lika-liku kehidupan pernikahannya sampai ia menjadi direktur  salah satu bank di Cilegon.
            Ia pun mulai bercerita tentang kisahnya bekerja di bank, nangis-nangis ke direktur utama agar nasabahnya tak dibebankan biaya bunga karena mengalami bangkrut total sampai dititik akhir ia memutuskan untuk resign dari pekerjaan...
            Saya mencintai dunia accounting mbak, hitung menghitung itu hobi saya, saya bekerja karena saya cinta dengan dunia yang saya geluti. Saya hidup dari orangtua yang tidak mampu, semester 6 saya sudah bekerja di tempat saya magang sampai saya menikah dan punya anak. Suami dipindahkan tugas ke Cilegon, saya dan anak menyusul. 5 tahun saya di rumah mbak enggak kerja, fokus mengurus anak-anak yang masih kecil. Kemudian ketika anak-anak sudah agak besar, suami mengijinkan saya bekerja lagi soalnya dia tahu kalau istrinya ini memang suka bekerja.
            Pada saat itu lowongan yang ada ya cuman jadi direktur bank. Alhamdulilah setelah melewati test dan wawancara saya diterima. Dapet gaji yang lumayan dengan fasilitas mobil kantor.  Perekonomian kami bisa tercover sejak saya bekerja mbak, karena suami saya melanjutkan s2 di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Tapi dengan jabatan direktur itu saya hanya bertahan 1 tahun. Saya enggak kuat mbak dengan sistem kerjanya. Ada yang mengganjal dalam hati saya, saya tidak nyaman dan banyak sekali menemukan kejanggalan-kejanggalan lainnya hingga saya menyimpulkan dalam hati.
            “Duuh iki duwik setaan yang makan genderuwo”
            Saya bilang begitu sama suami saya mbak sambil nangis-nangis. Setiap hari ada saja persoalan di kantor yang  saya ceritakan sama suami.
            Terlebih jika ada nasabah yang mau ambil kredit, tiba-tiba ada amplop di meja saya atau ada pulsa masuk di nomor saya. Tapi saya sudah berprinsip sejak awal kalau enggak bakal mau menerima duit-duit enggak jelas gitu. Meskipun mereka selalu membungkus kalimat uang itu sebagai hadiah atau apalah. Tapi saya selalu menolak. Karena itu sudah menjadi bagian dari pekerjaan saya. Saya sangat hati-hati dalam hal ini mbak, saya enggak mau ngasik makan anak-anak dengan uang yang enggak jelas. Saya ingin nanti anak-anak saya jadi anak yang berbakti, yang shalih dan bermanfaat.
            Kalau mau jadi kaya cepet bisa itu mbak setiap nasabah yang mengajukan kredit saya palakin duitnya. Bagi hasil berapa persen dari kredit yang goal. Tapi sekali lagi itu bukan saya.
            Pada suatu hari di titik kejenuhan saya, saya mendapati nasabah yang sudah nunggak 1 tahun enggak bayar cicilan. Pihak bank tidak mau tahu, pokoknya nasabah itu harus membayar denda dan bunganya.
            Akhirnya saya survey ke rumah nasabah itu mbak, saya melihat mereka memang lagi kesusahan. Usahanya bangkrut total. Jangankan untuk bayar cicilan, buat makan aja susah. Hati saya ini enggak tega mbak.. akhirnya saya mengungkapkan ini kepada direktur utama dan general manager saya. Mereka kekeh enggak mau tahu pokoknya nasabah itu harus membayar denda dan bunga sesuai kesepakatan atau pihak bank akan menjual asetnya dan saya diberi tanggung jawab untuk menanganinya. Maka saya pun langsung mengajukan keberatan
            “Pak, kasian pak orangnya itu lagi bangkrut, buat makan aja susah boro-boro mau bayar cicilan, udah lah pak bebasin aja dendanya, bunga 0% yang penting dia bayar pokoknya saja.”
            “lho kamu itu kok malah kasihan sama nasabah bukan malah membela bank. Kamu itu kerja di bank!”
            “kasihan Pak, mereka juga manusia Pak... bukan binatang.”
            Sampai dititik lelah saya menangis mbak di bawah kursi... saya mbatin. Ya Allah kayak gini tho kerja di bank. Manusia lagi jatuh makin diinjek-injek kayak hewan. Sejak saat itu saya bilang sama suami kalau mau resign dan dia sangat tidak keberatan. Saya berdoa mbak, saya ngadu, nangis sejadi-jadinya. Saya minta supaya suami dikasik gaji gabungan gaji saya dengan dia. Entah itu di perusahaan atau dia naik pangkat. alhamdulilah mbak, janji Allah itu benar. Barang siapa yang berhijrah karena Allah maka Allah akan memudahkan urusannya. 5 bulan terjawab doa saya. Suami ketrima di salah satu perusahaan asing di Gresik yang gajinya itu seperti gaji saya jadi direktur dan gajinya dia.
            Saya memutuskan untuk resign dan bersumpah tidak akan kembali. Saya enggak mau kerja di bank.
            Ujian tidak berhenti begitu saja mbak... bekerja beberapa tahun tiba-tiba suami saya kena PHK. Duuh nangis saya mbak, uang saat itu pas-pasan. Pas buat makan satu bulan. Anak-anak udah SD. Akhirnya saya sama suami sama-sama ngelamar kerja bareng. Bismillah saya rutin tahajud wiritan tiap malem sama suami. Bismillah siapa yang dapet kerja duluan udah itu rejeki yang penting bulan depan anak-anak kita bisa makan.
            Walaupun sudah ada 2 bank yang menawarkan saya menjadi direktur dengan gaji yang saya inginkan, fasilitas mobil kantor tapi saya sudah berkomitmen untuk tidak lagi bekerja di bank. Kok ya ndilalah mbak ada teman saya nawarin kerja jadi manager di salah satu perusahaan emas di Surabaya. Pas tanggal 25 februari saya mulai bekerja dan saya menyuruh suami saya fokus saja dengan thesisnya. Saya yang akan membiayai kuliahnya.         
            Selesai kuliah, dia sempat menganggur 1 tahun. Dia sempat menangis, saya kembali meyakinkan bahwa Allah tidak akan membiarkan hambaNya kelaparan. Kita harus tetap bertawakal. Alhamdulilah mbak, akhirnya suami saya dapet panggilan kerja di Saudi di perusahaan besar.
            Awalnya saya sempat khawatir, kita tidak pernah pisah jauh. Kemanapun dia saya selalu ikut dengan anak-anak. Anak-anak juga nempel sama papanya. Apalagi ini dia akan ke negara tetangga, jelas beda kulturnya, beda cuacanya. Saya bawakan itu bekal makanan sekoper mbak dan uang pegangan. Saya menjual emas simpenan saya. Meskipun ia sempat menolak karena itu emas hasil dari jeripayah saya tapi saya bilang kalau saya ikhlas, buat apa sih toh semua harta itu enggak dibawa mati.
            1 bulan kemudian saya ditransfer gaji pertamanya, saya nangis mbak. Kalau kemarin-kemarin bingung gak punya uang sekarang saya bingung karena kebanyakan uang. Saya bingung saya apakan uangnyaa. Akhirnya saya bagi-bagi ke saudara-sudara yang butuh. Saya tabung uangnya sampai kami sekeluarga bisa berhaji. Kami nangis bareng mbak, enggak pernah menyangka bakal bisa ke tanah suci, enggak pernah terbayang mbak bisa sampai sini.
            Udah lah mbak kuncinya pokoknya yakin sama Allah. Yakin kalau Allah bakal nolongin kita. Tahajud sama duhanya dikencengin, apapun yang kita rasakan ngadu aja ke Allah.
            Sejak saya resign dari bank saya memutuskan untuk tidak ambil kredit mbak, semua harus cash berapapun uang yang kita punya.
            Tahun 2012 saya beli rumah, kami cuman punya uang 300 juta waktu itu. Nah suami maunya menganggarkan harga rumah sekitar 700 juta biar agak gedean rumahnya. Alhamdulilah tetangga depan rumahnya dijual harganya 750 juta lantai 3. Tetangga itu dekat sama saya, maunya rumahnya dibeli sama saya berapapun uang yang saya punya pokoknya dia mau uang itu nantinya berkah.
            Alhamdulilah mbak rumah seharga 750 juta bisa kami beli 500 juta cash.
            Sudahlah mbak pesen saya jauhkan riba, enggak berkah mbak... tenang mbak.. Allah sudah berjanji kalau barang siapa yang berhijrah karena Allah maka Allah akan mudahkan urusannya. Saya doakan semoga bisnisnya lancar, cita-citanya dikabulkan. Tahajud sama duhanya mbak jangan lupa dirutinkan.
Obrolan kami berakhir setelah ia mendapat pesan dari anaknya bahwa urusannya di kampus sudah selesai. Kami bertukar kontak dan berpisah.
Aah, luar biasa. Seandainya aku tadi memilih untuk mengabaikan sapaannya dan berkutat dengan deadline tidak akan mendengar ceritanya yang bagiku menginspirasi bagi diriku sendiri.
Beberapa hari yang lalu aku dan suami masih berdebat antara ambil cicilan rumah atau bersabar mengumpulkan uang sendiri. Aku kekeh tetap mau ambil cicilan rumah karena jangka panjangnya harga rumah tiap tahun akan selalu naik.
Sedangkan suami sudah berprinsip sejak awal menikah untuk tidak ambil kredit. Semua barang pembeliannya ia beli dengan cash. Ia juga tipe lelaki yang pandai menabung, jelas kontras dengan saya yang doyan jajan hehehe.
“Sudahlah.. bisa..bisa kita punya rumah tanpa ambil cicilan, bismillah, yuk kita bikin planningnya yang rapih dan komitmen. Bismillah, yank” begitu ucapnya meyakinkan.
Aah, betapa hidup ini banyak sekali kejadian diluar prasangka dan logika manusia.
Terima kasih bu Dewi ceritanya membukakan pikiranku, meyakinkan bahwa sekali lagi ketika hidup berpedoman dengan Allah, dengan islam maka tak ada lagi keragu-raguan. Tenang dan tentram hati kita.
Barangkali jika aku memilih mengabaikan bu Dewi aku juga tidak akan bisa membuat tulisan ini...
Ah iyaa, Bu Dewi ini penampilannya biasa seperti buibu berjilbab pada umumnyaa. Karena pasti pandangan kita jika dilihat dari pemikiran bu Dewi pasti yang dibayangkan adalah ibu-ibu dengan jilbab gede atau syar’i dan berjubah hitam.

You Might Also Like

0 comments

Makasih sudah main, ambil yang baik-baik dari postingan ini, yang jelek tinggal ngopi aja..