Kopi Tubruk

Maret 16, 2018


Ayo ngopi shég cék gak salah paham” tagline ini seperti sudah tidak asing lagi kita dengar baik di dunia angkringan kopi kelas bawah maupun kelas atas yang populer disebut coffeshop maupun dunia netizen. Kopi di sini seakan menjadi solusi bagi setiap masalah apapun.
Faktanya, kopi hitam tidak hanya dapat melawan diabetes dan beberapa tipe kanker, tetapi juga dapat meningkatkan memori dan mengurangi stres. Karena kopi mengandung zat anti-depresi, jadinya orang yang suka minum kopi biasanya lebih mudah mengatasi rasa depresinya, ada sensasi relaks ketika disruput, maka dari itu tidak heran jika tagline “Ayo ngopi shég cék gak salah paham” itu menjadi acuan bagi siapapun yang sedang tertimpa masalah atau konflik baik dengan dirinya sendiri atau dengan saudara, sahabat maupun kerabat kerja.
            Menurut sebuah studi dalam World Journal of Biological Psychiatry itu juga telah menemukan bahwa reputasi negatif tentang kopi sudah tidak berlaku lagi. Asalkan, kopi yang dinikmati adalah kopi hitam, bukan kopi instant dengan kandungan susu atau krim, yang sejatinya kadar kopinya hanya beberapa persen saja, selebihnya perisa dan pemanis.
            Bicara tentang kopi, rasa-rasanya banyak yang bertanya sebenarnya apa sih dibalik nama kopi tubruk ini? mengapa harus menyisipkan kosakata tubruk?
            Menurut kamus besar Bahasa Indonesia kopi tubruk berarti minuman kopi yang dicampur dengan gula jadi satu di dalam gelas lalu diseduh dengan air panas, namun menurut versi lain dari foodies (pecinta wisata kuliner) dan coffe addict mereka hampir sepakat bahwa kopi tubruk adalah bubuk kopi hitam yang direbus bersamaan dengan gula. Adapun pecinta kopi garis keras seperti saya ini yang tidak mau mencampur kopi dengan unsur tambahan apapun termasuk gula, maka saya merebus bubuk kopi dengan air mineral saja. Tapi saya akan mencampurnya dengan merek gula tertentu kalau sedang membuatkan kopi untuk Bapak dan Ibu di rumah dan saya selalu memakai gula merek Gulapas produk resmi dari PT PN XI, mengapa?
            Karena saya tidak pernah bercanda soal kopi. Dari mulai meracik sampai akhirnya bisa tersruput dengan rasa dan tekstur yang benar-benar pas dan sempurna.
            Seperti halnya manusia, kopi juga memiliki karakter khas masing-masing pada setiap jenisnya. Dan kopi favorit saya adalah kopi robusta asli dari perkebunan gunung merapi yang jaraknya hanya 7 kilometer dari puncak gunung merapi. Agar karakter khas kopi robusta ini keluar maka dua hal utama yang perlu diperhatikan adalah kualitas air yang bagus, jernih dan tidak berbau. Kedua, yaitu kualitas gula.
            Gula yang dipakai haruslah higienis dan bersih. Cirikhasnya ia tidak akan meninggalkan bekas serik di tenggorokan, serta tidak menganggu karakter aroma kopi ketika disruput. Maka saya dan keluarga besar saya telah memutuskan untuk memakai Gulapas dalam pembuatan kopi tubruk.
            Cara membuat kopi tubruk ini ada empat langkah saja, sederhana namun harus jeli dan hati-hati dalam proses pembuatannya ;
Pertama, panaskah air mineral sampai mendidih di panci kecil.

Kedua, sambil menunggu air mendidih, siapkan kopi yang akan kita seduh. Biasanya sekitar 13-14 gram untuk 200 ml air. Jika sampéyan kesulitan dalam menimbang alias ribet. Bisa dibikin gampang kok, kira-kira dua sendok teh untuk satu cangkir air. Jangan lupa, tambahkan gula merek Gulapas dengan takaran sesuai selera. Kalau ndak suka manis ya kasik saja satu sendok teh, kalau suka manis, kasik saja dua setengah sendok teh. Jangan banyak-banyak nanti rasanya akan berbeda.

Ketiga, nah, ketika air sudah mendidih, kecilkan api lalu masukkan kopi dan gula jadi satu dalam panci yang berisi air mendidih tadi.
Keempat, aduk terus sampai rebusan kopi ini mendidih. Karena jika dibiarkan begitu saja nanti bisa meluber dan tumpah.
Kelima, tuang rebusan kopi ke dalam cangkir.
            Kopi tubruk sudah siap disruput, apalagi kalau ditemenin pisang goreng tambah maknyus.
            Dalam pembuatan kopi tubruk ini pun ada berbagai macam versi. Salah satunya ada yang langsung mencampurkan air mineral tanpa direbus dulu, langsung dicampur dengan kopi dan gula lalu baru direbus bersamaan.
            Namun berdasarkan pengalaman pribadi, saya lebih suka merebus air mineralnya terlebih dahulu baru setelah itu direbus lagi dengan kopi dan gula. Sekali lagi ini masalah selera, tapi yang jelas seorang pecinta kopi sejati akan meracik sebaik mungkin kopinya agar terasa pas dan sempurna dalam setiap cecapannya.

           



You Might Also Like

1 comments

Makasih sudah main, ambil yang baik-baik dari postingan ini, yang jelek tinggal ngopi aja..