Peran Doula dan Hari Bidan Internasional part I

Mei 07, 2020




Di bulan puasa ini tanggal 5 Mei kemarin adalah hari bidan internasional. Aku jadi ingat masa-masa dimana kedekatanku dengan doula dimulai.
Saat itu….
“Mbak, aku hamil” ucapku pada Mbak Aida yang berprofesi sebagai doula, kami bertemu di sebuah café di Surabaya. Air mataku seketika jatuh. Bingung serta cemas seakan bertumpuk menjadi satu
“Lho… alhamdulilaaaah masya allah Utha.. kok malah sedih sih, harus bahagia. Bumil harus Bahagia” jawabnya sambil merangkulku dengan lembut.
“Tapi mbak… aku enggak bisa bayangin hamil terus nanti melahirkan tanpa ada Ibu. Aku enggak bisa kayaknya. Enggak sanggup. semua temen-temenku lahirannya ditemenin ibunya gantian sama suaminya. Setelah melahirkan pun ibunya nemenin bantuin ngurus bayi.” keluhku dengan isakan tangis yang makin menjadi. 
Jika saja saat itu aku tidak memutuskan bertemu dengannya, barangkali aku tak sekuat saat ini yang mampu menghadapi lika liku persalinan bahkan sampai merawat bayi baru lahir. Tetap menjalankan rutinitas tanpa ART dan  tidak merasa baby blues. Padahal aku tipe perempuan yang gampang depresi yang merasa belum selesai sama dirinya sendiri.
Dulu aku menyepelekan keberadaan doula. Aah ilmu kehamilan bisa belajar dari youtube malah enak gratis, soal lahiran gampang lah kan ada dokter dan juga bidan yang nolongin plus bisa ditanya-tanyain.
Baru aku merasakan bahwa peran doula tidak bisa digantikan dengan bidan atau pun suami dan anggota keluarga sekalipun.
Doula memiliki peran penting dalam proses kehamilan, khususnya menata psikis agar aku siap lahir batin dan itu tidak mudah bagiku.
Barangkali kesannya berlebihan, orang mungkin beranggapan bahwa hamil yaudah sih dijalanin aja mengalir, rutin kontrol ke dokter, kalau waktunya lahiran yaa lahir aja tinggal nurut aja kata dokter ini lahiran normal atau saecar. Tanpa memperdulikan Kesehatan mental dan pengetahuan tentang proses dari hamil sampai melahirkan.
Bagiku Kesehatan mental itu sangat penting. Keluarga yang sejahtera Sakinah adalah yang sehat mentalnya. Dan jantung kesejahteraan sebuah rumah tangga atau keluarga dimulai dari ibu.
Hamil merupakan perjalanan spiritual yang tidak bisa kita sepelekan, setiap proses dan perubahan yang kita hadapi  bernilai ibadah. Itulah yang dikatakan berulang kali oleh doulaku, Mbak Aida.
Apalagi aku yang seringkali mengeluh
“Mbak kepalaku pusing”
“Mbak, dadaku sesag”
“Mbak kakiku bengkak dan linu banget buat jalan”
“Mbak, aku kepayahan, dikit-dikit gampang capek.. kenapa sih ini mbak? Aku enggak bisa gesit. Aku stress!!!”
Dan Mbak Aida cuma bilang “Its oke Utha, sudah sewajarnya inilah proses yang harus kamu lewati. Yang sabar.. kamu tahu enggak? Bahwa setiap rasa sakit yang dialami ibu hamil sampai melahirkan berguguran dosa-dosanya jika hatinya ikhlas… ayo… nafasnya diatur sambil menyebut asma Allah, adek bayi diajak komunikasi”
Bahkan mengatur nafas pun ada tekniknya, ada ilmunya. Aku baru tahu sejak hamil dan ternyata Teknik nafas ini bukan hanya dipakai saat hamil dan proses persalinan bahkan dalam kehidupan sehari-hari sangat bagus diaplikasikan untuk merelaksasi diri.
Aku jadi ingat dulu guruku pernah mengajarkan zikir nafas. Metode zikir nafas ini yang digunakan para wali untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan juga sebagai metode pengobatan berbagai macam penyakit, terutama penyakit hati. (metode zikir nafas ada di postingan saya sebelumnya tahun 2018)
Sebetulnya  apa saja sih peran doula?
  • Memberikan dukungan untuk melewati persalinan.
  • Memberikan informasi mengenai persalinan dan membantu mewujudkan rencana persalinan.
  • Memberikan bantuan untuk ibu hamil membuat keputusan berdasarkan informasi yang diberikan.
  • Memberikan informasi dan saran tentang posisi dan teknik selama persalinan.
  • Memberi dukungan agar merasa percaya diri dalam berbicara pada dokter tentang pilihan atau kecemasan medis.
  • Memberi dukungan setelah kelahiran sesuai kebutuhan.

Tidak semua bidan bisa jadi doula karena peran doula tidak bisa sembarang orang. Sedangkan doula bisa jadi bidan (tinggal ambil sekolah kebidanan. Namun di Indonesia sekolah kebidanan memiliki Batasan umur). Tapi kalau lihat tugas dan peran doula di atas rasa-rasanya semua orang juga bisa. Eeits… jangan salah. Hati yang tulus tidak bisa dipaksakan. Ketulusan mendalami peran sebagai doula akan terlihat dari caranya berkomunikasi dan juga cara memperlakukan ibu hamil beserta keluarganya.
Lalu apa saja kegiatan Ibu hamil yang mendapat pendampingan khusus dengan doula?
Berlanjut di postingan selanjutnya yaa... mohon maaf Aksa tiba-tiba bangun dari tidurnya, sepertinya minta asi. hehehe. 

Selamat menunaikan ibadah menyusui di bulan puasa 😊

#inspirasiramadan #dirumahaja #flpsurabaya #BERSEMADI_HARIKE-7








You Might Also Like

1 comments

Makasih sudah main, ambil yang baik-baik dari postingan ini, yang jelek tinggal ngopi aja..